Slideshow

Sabtu, 22 Oktober 2011

Kecerdasan Emosional

Istilah kecerdasan emosional pada mulanya diperkenalkan oleh dua ahli psikologi, yaitu Peter Salovey dari Universitas Harvard, dan John Mayer dari Universitas New Hampshire. Istilah ini kemudian dipopulerkan oleh Daniel Goleman, penulis buku laris Emotional Intelligence: Why it can matter more than IQ, yang dalam edisi Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia dengan judul “Emotional Intelligence (Kecerdasan Emosional); Mengapa EI Lebih Penting daripada IQ.”

Salovey dan Mayer menggunakan istilah kecerdasan emosional untuk menggambarkan kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan membangkitkan perasaan untuk membantu pikiran, memahami perasaan dan maknanya, dan mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu perkembangan emosi dan intelektual (Stein & Book, 2004: 30).

Daniel Goleman (2003: 45) mencirikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir; berempati dan berdoa.

Pengertian yang lain disampaikan oleh Pamugari Widyastuti, dosen psikologi Universitas Indonesia. Namun dalam hal ini ia membedakan antara istilah Emotional Intelligence (EI) dengan Emotional Quotient (EQ). Menurutnya, emotional intelligence adalah kemampuan mengenali perasaan-perasaan yang positif (menyenangkan) dan negatif (tidak menyenangkan), serta kemampuan mengubah suatu perasaan negatif menjadi positif. Sedangkan emotional quotient adalah kesadaran emosi dan kemampuan mengelola emosi, yang memungkinkan seseorang mampu menyelaraskan emosi dan nalarnya sehingga kebahagiaan dapat tercapai secara optimal.

Seorang pakar psikologi, Robert K. Cooper –sebagaimana dikutip oleh Wijaya (2007: 4)– mengatakan bahwa kecerdasan emosional merupakan kemampuan merasakan, memahami, dan secara selektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh yang manusiawi. Hal ini berarti kecerdasan emosi menuntut penilikan perasaan, pengaruh untuk belajar mengakui, menghargai perasaan pada diri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat, menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa pengertian tersebut di atas memberikan suatu pemahaman bahwa kecerdasan emosi merupakan kemampuan untuk mengenali, mengelola, dan mengekspresikan dengan tepat, termasuk untuk memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, serta membina hubungan dengan orang lain. Dalam hal ini yang berperan adalah hati. Hati mengaktifkan nilai-nilai yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang dipikir menjadi sesuatu yang dijalani. Hati mengetahui hal-hal yang dapat atau tidak dapat diketahui oleh pikiran. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas, dan komitmen (Wijaya, 2007: 5).

Menurut konsep kecerdasan emosional, yang di-manage adalah emosi. Term emosi ini bukanlah emosi yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari karena term emosi ini sangat berbeda dengan pengertian emosi dalam psikologi. Emosi dalam pemakaian sehari-hari sering mengacu kepada ketegangan yang terjadi pada individu akibat dari tingkat kemarahan yang tinggi. Singkatnya, kata emosi lazim dipahami oleh masyarakat sebagai ekspresi marah. Hal ini tentu berbeda dengan apa yang dimaksud dalam kajian tentang kecerdasan emosional.

Secara etimologi, emosi berasal dari akar kata bahasa latin movere yang berarti menggerakkan atau bergerak. Kemudian ditambah dengan awalan ‘e’ untuk memberi arti bergerak menjauh. Makna ini menyiratkan kesan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi (Hude, 2006: 16). Menurut makna paling harfiah, Oxford English Dictionary, sebagaimana dikutip oleh Daniel Goleman (2003: 411), mendefiniskan emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu; setiap keadaan mental yang hebat atau meluap-luap.

Menurut Crow & Crow, emosi merupakan suatu keadaan yang bergejolak pada diri individu yang berfungsi sebagai inner adjustment  (penyesuaian dalam diri) terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan individu (Hartati, dkk, 2004: 90). Definisi yang lebih jelas mengartikan bahwa emosi adalah suatu gejala psiko-fisiologis yang menimbulkan efek pada persepsi, sikap, dan tingkah laku, serta mengejawantah dalam bentuk ekspresi tertentu. Misalnya, emosi senang (joy) yang berkombinasi dengan penerimaan (acceptance) akan melahirkan cinta (love); emosi sedih (sadness) yang berkombinasi dengan kejutan (surprise) melahirkan kekecewaan mendalam (disappointment); cinta (love) berkombinasi dengan marah (anger) melahirkan kecemburuan (jealousy) (Hude, 2006: 23).

Di dunia Islam, kajian atas emosi bukanlah barang baru. Al Qur’an juga hadits banyak sekali menyinggung tentangnya. Di dalam al Qur’an, menurut Nasaruddin Umar, aktifitas kecerdasan emosional seringkali dihubungkan dengan qalb (kalbu). Oleh karena itu, kata kunci utama EQ di dalam al Qur’an dapat ditelusuri melalui kata kunci qalb (kalbu) dan tentu saja dengan istilah-istilah lain yang mirip dengan fungsi kalbu seperti jiwa (nafs), intuisi (hadas), dan beberapa istilah lainnya (Hude, 2006: ix). Lebih lanjut, Nasarudin Umar mengelompokkan jenis-jenis dan sifat kalbu (qalb) dalam al Qur’an ke dalam dua kelompok, yaitu kalbu yang positif dan kalbu yang negatif.

a.Kalbu yang positif:
1). Kalbu yang damai (qalb salim) (Q.S. al Syuara’: 89)
2). Kalbu yang bertaubat (qalb munib) (Q.S. Qaaf: 33)
3). Kalbu yang tenang (qalb muthmainah) (Q.S. al Nahl: 6)
4). Kalbu yang berfikir (qulub ya’qilun) (Q.S. al Haj: 46)
5). Kalbu yang mukmin (qulub al mu’min) (Q.S. al Fath: 4)

b.Kalbu yang negatif:
1). Kalbu yang sewenang-wenang (qalb mutakabbir) (Q.S. al Mu’min: 35)
2). Kalbu yang sakit (qalb maridh) (Q.S. al Ahzab: 32)
3). Kalbu yang melampaui batas (qulub al mu’tadin) (Q.S. Yunus: 74)
4). Kalbu yang berdosa (qulub mujrimin) (Q.S. al Hijr: 12)
5). Kalbu yang terkunci, tertutup (khatama Allah ‘ala qulubihim) (Q.S. al Baqarah: 7)
6). Kalbu yang terpecah-pecah (qulubuhum syatta) (Q.S. al Hasyr: 14)

Senada dengan Hude adalah Agustian (2006: 112) yang membagi emosi ke dalam kategori emosi yang tercipta ketika manusia menjauh atau keluar dari garis orbit (off line) dan emosi yang masuk dalam garis orbit (in line). Yang masuk dalam kategori off line adalah emosi yang keluar dari tuntutan hati nurani, sedangkan in line adalah yang sesuai dengan hati nurani. Emosi-emosi tersebut antara lain:
  1. Marah, ketika harga diri terguncang (off line) 
  2. Kecewa, ketika suara hati tidak sesuai dengan kenyataan (off line)
  3. Sedih, pada saat merasa kehilangan (off line)
  4. Menangis, ketika God Spot tergetar (off line atau in line) 
  5. Bahagia, ketika suara hati tersentuh (in line) 
  6. Merasa damai, ketika suara hati menjadi kenyataan (in line) 
  7. Termotivasi, ketika bersemangat untuk merealisasikan suara hati (in line) 
  8. Antusias, saat diri merasa mampu untuk merealisasikan suara hati (off line) 
  9. Merasa aman, ketika suara hati terpenuhi (in line) 
  10. Kesal, ketika sebuah kenyataan jauh dari suara hati (off line) 
  11. Menyesal, ketika kesempatan untuk mengaplikasikan suara hati terlewatkan (off line)

Adapun pembagian emosi menurut Daniel Goleman (2003: 412) adalah sebagai berikut:
  1. Amarah; seperti beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, dan tindak kekerasan. 
  2. Kesedihan; seperti pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, depresi berat. 
  3. Rasa takut; seperti cemas, takut, gugup, khawatir, waspada, tidak tenang, was was, fobia, dan panik. 
  4. Kenikmatan; seperti bahagia, gembira, riang, puas, terhibur, bangga, takjub, senang sekali, dsb. 
  5. Cinta; seperti penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, kasih. 
  6. Terkejut; takjub, terkesiap, terpana dsb. 
  7. Jengkel; jijik, muak, mual, benci, tidak suka, mau muntah dsb. 
  8. Malu; rasa salah, malu hati, kesal hati, hina, aib, hati hancur lebur.

Uraian tersebut di atas jelas memperlihatkan bahwa qalb (kalbu) secara psikologis memiliki daya-daya emosi yang menimbulkan daya rasa (al syu’ur) yang positif atau yang negatif. Jika daya rasa positif diupayakan untuk selalu diberdayakan, maka potensi ini sangat mungkin untuk dapat dijadikan sebagai media pengembangan tingkah laku salih yang berbasis rasa cinta, senang, riang, percaya (iman), tulus (ikhlas) dan rasa persaudaraan. Namun jika daya rasa negatif yang dibiarkan, tanpa ada upaya pengendaliannya, maka perilaku yang nampak dipermukaan cenderung selalu menolak terhadap kebenaran, sekalipun datangnya dari Tuhan. Hal ini dapat terjadi, dikarenakan keadaan psikologis sudah didominasi oleh daya rasa kebencian, ketidaksenangan, kekufuran, keingkaran dan kemunafikan, yang dalam bahasa al Ghazali disebut al Ghadlab (Hadziq, 2005: 107). Oleh karena itu, daya-daya emosi tersebut harus dikelola dan diatur sedemikian rupa agar lebih cerdas secara emosional.

Secara medis –menurut Dr. Mark George, seorang ahli saraf dari International of Mental Health– di dalam otak manusia terdapat dua komponen yang disebut dengan sistem limbik  dan amigdala.  Di dalam kedua komponen otak inilah emosi manusia diatur. Kecerdasan emosi yang sekarang diketahui sebagai salah satu kunci sukses kehidupan, merupakan fungsi dari kedua komponen otak ini (Pasiak, 2003: 99). 

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana caranya memaksimalkan kedua komponen otak tersebut agar emosi menjadi lebih cerdas? Menurut Peter Salovey terdapat 5 (lima) dimensi EQ. Apabila seorang individu menguasai kompetensi yang menyebar pada kelima dimensi EQ tersebut, akan membuat seseorang menjadi lebih paham terhadap pribadinya atau memiliki kecerdasan emosional (Goleman, 2003: 58). Kelima dimensi itu adalah mengenali emosi diri (self awareness), mengelola emosi (self regulation), memotivasi diri sendiri (motivation), mengenali emosi orang lain (empathy), dan membina hubungan atau keterampilan sosial (social skill).

1.Mengenali emosi diri (self awareness).
Kompetensi dalam dimensi pertama ini adalah mengenali emosi sendiri, mengetahui kekuatan dan keterbatasan diri, dan keyakinan akan kemampuan sendiri. Hal ini penting mengingat ketidakmampuan untuk mencermati perasaan sesungguhnya akan membuat seorng individu dikuasai oleh perasaan. Orang yang memiliki keyakinan yang lebih tentang perasaan adalah pilot yang handal bagi kehidupan mereka (Goleman, 2003: 58).

Ajaran Socrates “kenalilah dirimu” serta hadits Nabi Muhammad SAW yang artinya: “barang siapa yang mengenali dirinya, maka ia benar-benar mengenali Tuhannya”, jelas menunjukkan inti kecerdasan emosional (Sukidi, 2004: 44).

2.Mengelola emosi (self regulation)
Emosi tentu saja tidak cukup hanya dikenali saja, tetapi lebih dari itu harus pula disadari eksistensinya dan dikelola agar dapat memberi pengaruh yang positif dalam kehidupan. Oleh karena itu, kompetensi dimensi kedua ini adalah mengelola emosi. Perasaan perlu ditangani dan dikendalikan agar dapat terungkap dengan pas. Ketika perasaan sedang senang tidak perlu terlalu berlebihan dan ketika sedang down, murung, cemas, atau tersinggung, juga tidak terlalu berlebihan. 

3.Memotivasi diri sendiri (motivation)
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri dan menguasai diri sendiri, serta untuk berkreasi. Goleman (2003: 58) menyatakan bahwa kendali diri emosional –menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati– adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang.

4.Mengenali emosi orang lain (empathy)
Orang yang empatik lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan atau dikehendaki oleh orang lain (Goleman, 2003: 59). Mengasah kemampuan untuk mengenal emosi orang lain sangat diperlukan dalam berhubungan dengan siapapun karena hal ini akan menentukan cara kita mensikapi keadaan sekitar. Selain itu, kemampuan mengenal emosi orang lain dan mensikapinya secara tepat akan berpengaruh besar pada “kesuksesan” dalam berhubungan dengan orang lain.
 
5.Membina hubungan atau keterampilan sosial (social skills)
Maksudnya adalah kemampuan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain. Diantaranya adalah kemampuan persuasif (mempengaruhi), mendengar dengan terbuka dan memberi pesan yang jelas, kemampuan menyelesaikan silang pendapat, semangat leadership, kolaborasi dan kooperasi, serta team building
 
Uraian tersebut diatas memberi sebuah pemahaman bahwa dalam mengarungi kehidupan seseorang tidak hanya cukup memiliki IQ yang tinggi saja, apalagi ketika berinteraksi interpersonal maupun intrapersonal. Oleh karena itu perlu di dukung pula jenis kecerdasan yang lain, seperti kecerdasan emosional. Keberhasilan seseorang dalam kehidupan sangat ditentukan oleh keduanya. Kecerdasan intelektual (IQ) tidak dapat bekerja dengan sebaik-baiknya tanpa kecerdasan emosional. Apabila keduanya dapat berinteraksi dengan baik, maka akan semakin bertambah kualitas kehidupan seseorang.

Menurut Wipperman (2007: 5) emosi dan akal bagaikan dua sisi mata uang. EQ adalah penjelmaan dari suatu tolok ukur kekuatan otak (IQ). Jadi, IQ dan EQ adalah dua sumber yang sinergis: tanpa yang satu maka yang lainnya menjadi tidak lengkap dan tidak efektif. Berbekal IQ yang tinggi, seseorang dapat mendapatkan nilai yang tinggi dalam tes, tetapi tidak akan menjamin dapat menjadi yang terdepan dalam hidup. Hal ini karena domain EQ adalah hubungan-hubungan personal dan interpersonal; daerah ini bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, sensitifitas sosial, dan adaptabilitas sosial.

Clifford Geertz dan Agama Jawa (Abangan, Santri dan Priyayi)

Clifford Geertz adalah penulis buku legendaris The Religion of Java, yang populer sekaligus penting bagi diskusi tentang agama di Indonesia khususnya di Jawa. Pandangan Geertz yang mengungkapkan tentang adanya trikotomi--abangan, santri dan priyayi--di dalam masyarakat Jawa, ternyata telah mempengaruhi banyak orang dalam melakukan analisis baik tentang hubungan antara agama dan budaya, ataupun hubungan antara agama dan politik. Dalam diskursus interaksi antara agama, khususnya Islam, dan budaya di Jawa, pandangan Geertz telah mengilhami banyak orang untuk melihat lebih mendalam tentang interrelasi antara keduanya. Keterpengaruhan itu bisa dilihat dari beberapa pandangan yang mencoba menerapkan kerangka berfikir Geertz ataupun mereka yang ingin melakukan kritik terhadap wacana Geertz.
Clifford Geertz dilahirkan di San Francisco, California, Amerika Serikat pada tanggal 23 Agustus 1926. Dia merupakan ahli antropologi budaya yang beberapa kali melakukan penelitian lapangan di Indonesia dan Maroko. Dia menulis esai tentang ilmu-ilmu sosial serta merupakan pelopor pendekatan “interpretif” dalam bidang antropologi.

Karir Geertz diawali dari dunia militer, dimana dia melayani Angkatan Laut Amerika selama Perang Dunia II. Adapun karir akademiknya dimulai ketika dia menerima gelar sarjana dalam bidang filsafat dari Antioch College, Ohio, pada tahun 1950. Dari Antioch ia melanjutkan studi antropolgi di Harvard University. Pada tahun keduanya di Harvard ini, ia bersama isterinya, Hildred, pergi ke Pulau Jawa dan tinggal di sana selama dua tahun untuk mempelajari masyarakat multiagama, multiras yang kompleks di sebuah kota kecil –Mojokuto. Setelah kembali ke Harvard, Geertz pada tahun 1956 memperoleh gelar doktor dari Harvard’s Departement of Social Relations dengan spesialisasi dalam antropologi.

Sebelum bergabung dengan Institute for Advanced Study, sebuah lembaga penelitian yang pernah menjadi rumah bagi para pemikir besar seperti Albert Einstein, Geertz mengajar di Universitas Chicago, sebagai profesor antropologi dan kajian perbandingan negara-negara baru. Ia juga pernah mengajar sebagai profesor tamu di Universitas Oxford, dan sejak 1975 sampai 2000, ia menjadi profesor tamu di Universitas Princeton yang kampusnya hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari Institute for Advanced Study. Tahun 2000, Geertz pensiun dari Institute for Advanced Study, tetapi tidak mengurangi produktifitasnya untuk terus menulis.

Adapun tema yang dibicarakan Geertz dalam berbagai esai dan buku yang telah diterbitkan meliputi seluruh spekturm kehidupan sosial manusia: dari pertanian, ekonomi, dan ekologi hingga ke pola-pola kekeluargaan, sejarah sosial, dan politik dari bangsa-bangsa berkembang; dari seni, estetika, dan teori sastra hingga ke filsafat, sains, tehnologi, dan agama. Namun begitu, perhatian utama Geertz lebih ditekankan pada pemikiran kembali secara serius terhadap hal-hal pokok di dalam praktek antropologi dan ilmu sosial yang lain –pemikiran kembali yang secara langsung berhubungan dengan usaha memahami agama.

Sebagai seorang antropolog, Clifford Geertz menjadi terkenal dan populer di Indonesia setelah melakukan penelitian di Jawa dan Bali, yang menghasilkan beberapa buku penting tentang Indonesia. Dan yang paling pokok, khususnya yang berkaitan dengan kajian Penulis, adalah kajiannya tentang agama Jawa dan politik aliran (abangan, santri dan priyayi).

Geertz adalah salah seorang generasi pertama Indonesianis yang selalu menaruh perhatian besar tentang perkembangan yang terjadi di Indonesia. Ia memang tak pernah memiliki murid dari Indonesia, tak seperti Indonesianis lain misalnya Daniel Lev atau Benedict Anderson yang telah menghasilkan banyak anak didik dari Indonesia. Tetapi, perhatian Geertz yang besar terhadap Indonesia sangat mempengaruhi perkembangan diskursus ilmu sosial di negeri ini.

Sebagaimana dituturkan oleh Ignas Kleden, Geertz telah menghabiskan waktu selama 10 tahun lebih dalam penelitian lapangan (di Jawa, Bali, dan Maroko) dan 30 tahun digunakannya untuk menulis tentang hasil-hasil penelitiannya, dengan tujuan menyampaikan pesona studi kebudayaan kepada orang-orang lain.

Clifford Geertz meninggal dunia di kediamannya di Pennsylvania, setelah menjalani operasi jantung di Rumah Sakit Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat, Pada hari Selasa tanggal 31 Oktober 2006 dalam usia 80 tahun dengan meninggalkan banyak karya penting seperti The Interpretation of Cultures, Islam Observed: Religious Development in Morocco and Indonesia, Available Light, Local Knowledge, Works and Lives: The Anthropologist as Author, After The Fact: Two Countries, Four Decades, One Anthropologist, The Religion of Java, Peddlers and Princes, The Social History of an Indonesian Town, Kinship in Bali, Negara: The Theater State in 19th Century Bali, dan Agricultural Involution.

Latar Belakang Pemikiran
Untuk memahami buku The Religion of Java tampaknya tidak akan lengkap tanpa mengetahui terlebih dahulu latar belakang antropologi Geertz. Dan semua itu akan tampak jelas dengan memperhatikan latar belakang pendidikan antropologinya, yakni Harvard University. Melihat latar belakang pendidikan Geertz di bidang antropologinya ini, tampaknya ide agama dan budaya Geertz berkembang di bawah dua pengaruh utama, yaitu tradisi antroplogi Amerika yang independen dan kuat, dan perspektif tentang ilmu sosial yang ia jumpai saat belajar di Harvard dibawah teoritisi terkemuka, Talcott Parsons.

Dalam tradisi antropologi Amerika, ditegaskan bahwa setiap teori harus berasal dari etnografi “partikular” yang teliti, yaitu suatu studi yang berpusat pada satu komunitas dan mungkin memakan waktu bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun untuk menyelesaikannya. Disamping kerja lapangan, para perintis antropologi Amerika juga memberi tekanan pada “budaya” sebagai unit kunci studi antropologi. Mereka menegaskan bahwa di dalam studi lapangan, mereka tidak hanya meneliti sebuah masyarakat, tetapi juga suatu sistem ide, adat istiadat, sikap, simbol, dan institusi yang lebih luas dimana masyarakat hanyalah suatu bagian. Dan saat mahasiswa, tentu saja Geertz telah menyerap sebagian besar ide-ide utama para perintis antropologi Amerika seperti Boas, Kroeber, Lowie dan Benedict kedalam perspektif antropologinya.

Adapun terhadap perspektif ilmu sosial, tampaknya Talcott Parsons –gurunya di Harvard- telah bertindak sebagai penyalur ide-ide Weber kepada Geertz. Parson ini merupakan teoritisi sosial terkemuka Amerika waktu itu yang sangat terpengaruh oleh sosiolog besar asal Jerman, Max Weber. Parson ini juga yang telah menerbitkan studi-studi orisinil dan brilian tentang hubungan antara agama dan masyarakat. Parson ini pula yang menerjemahkan beberapa karya Weber serta menjelaskan ide-ide pokoknya.

Dari Parson ini, Geertz diperkenalkan dengan ide-ide Weber, terutama tentang pandangan Max Weber bahwa manusia adalah makhluk yang terjebak dalam jejaring (web) makna yang mereka buat sendiri, maka budaya adalah jejaring itu. Dari pandangan ini, Geertz kemudian mencoba mengelaborasi pengertian kebudayaan sebagai pola makna (pattern of meaning) yang diwariskan secara historis dan tersimpan dalam simbol-simbol yang dengan itu manusia kemudian berkomunikasi, berperilaku dan memandang kehidupan. Lebih lanjut Geertz juga berpendapat bahwa untuk memahami dunia manusia yang sarat makna, tidak cukup dengan mengandalkan logika positivisme tetapi juga harus melibatkan metode penafsiran atas motivasi aktor penciptanya serta berbagai komponen yang turut membentuk jaringan makna dimana aktor tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari komunitasnya. Bertolak dari pemikiran seperti ini, tidaklah mengherankan jika kemudian analisis Geertz tentang kebudayaan dan manusia tidaklah berupaya menemukan hukum-hukum seperti di ilmu-ilmu alam, melainkan kajian intepretatif untuk mencari makna (meaning).

Dibawah pengaruh pemikiran ala Weberian dan juga tradisi antropologi Amerika ini, Geertz tertarik untuk memfokuskan diri pada interpretasi simbol-simbol yang diyakininya memberikan arti dan aturan kehidupan masyarakat. Namun begitu, tampaknya Geertz tidak hanya mau menerima teori-teori dari para pendahulunya secara taken for granted, dimana dia ternyata mencoba menyimpang dari tradisi antropologi sebelumnya yang memberi perhatian utama kepada kelompok suku, atau pemukiman di sebuah pulau terpencil, komunitas kecil petani atau penggembala, atau suku-suku terasing yang cenderung menghilang. Sebaliknya, Geertz justru lebih tertarik memperhatikan bagaimana aspek-aspek kehidupan yang berbeda bercampur dalam suatu kesatuan budaya dalam menyiapkan deskripsi yang detail dan sistematis tentang masyarakat non-Barat.

Kaitannya dengan pemilihan kota “Mojokuto” sebagai obyek penelitiannya, menurut Geertz itu hanya sebuah kebetulan belaka. Namun begitu, menurut Nono Makarim –salah seorang murid Geertz di Harvard dan juga pernah napak tilas Geertz di Pare- pemilihan Indonesia adalah karena Indonesia pada tahun 1950-an dianggap sebagai salah satu negara yang memiliki konstitusi yang paling maju di dunia, yang menjamin kebebasan dan kaya akan budaya dan model keberagamaannya. Kemudian, “Mojokuto” dipilih untuk memberikan kontras terhadap kecenderungan tradisi antropologi Amerika, karena kota kecil itu mempunyai penduduk yang melek huruf, dengan tradisi yang tua, urban, sama sekali tidak homogen serta sadar dan aktif secara politik. Di sana tampak jelas kebudayaan bukanlah sesuatu yang serba utuh dan padu, melainkan penuh variasi dan diferensiasi yang sangat jauh dari pengertian kebudayaan sebagai kesatuan pola tingkah laku yang terdapat pada suatu kelompok orang.

Diakui, “Mojokuto” ini memang merupakan suatu kota kecil di Jawa Timur yang tak bisa mewakili kebudayaan Jawa secara keseluruhan. Namun bagi Geertz, “Mojokuto” merupakan suatu tempat di mana makna “kejawaan” itu dibumikan.“Mojokuto” begitu complicated akibat benturan budaya, dimana Islam, Hinduisme, dan tradisi animisme pribumi “berbaur” dalam satu sistem sosial.

Dalam upayanya untuk menguak fenomena menarik berkenaan dengan masyarakat di Mojokuto, Geertz melihatnya sebagai suatu sistem sosial dengan kebudayaannya yang akulturatif dan agamanya yang sinkretik, yang terdiri atas sub-kebudayaan Jawa yang masing-masing merupakan struktur-struktur sosial yang berlainan. Struktur-struktur sosial yang dimaksud adalah Abangan (yang intinya berpusat di pedesaan), Santri (yang intinya berpusat di tempat perdagangan atau pasar), Priyayi (yang intinya berpusat di kantor pemerintahan, di kota). Namun demikian, ketiga inti struktur sosial di Jawa; desa, pasar, dan birokrasi pemerintah pada masa itu oleh Geertz dipandang dalam pengertian yang luas.

Menurut Geertz, tiga tipe kebudayaan –abangan, santri, dan priyayi- merupakan cerminan organisasi moral kebudayaan Jawa, dimana ketiganya ini merupakan hasil penggolongan penduduk Mojokuto berdasarkan pandangan mereka, yakni kepercayaan keagamaan, preferensi etnis dan ideologi politik. Selain itu, di Mojokuto ini juga terdapat lima jenis mata pencaharian utama –petani, pedagang kecil, pekerja tangan yang bebas, buruh kasar dan pegawai, guru atau administratur- yang kesemuanya mencerminkan dasar organisasi sistem ekonomi kota ini dan darimana tipologi ini dihasilkan.

Dengan kenyataan tersebut diatas serta berbekal kerangka pikir ala Weberian, tampaknya Geertz melihat bahwa dibalik pernyataan sederhana penduduk Jawa yang 90 % beragama Islam, sesungguhnya terdapat variasi dalam sistem kepercayaan, nilai, dan upacara yang berkaitan dengan masing-masing struktur sosial tersebut. Oleh karena itu, masalah-masalah yang perlu dirumuskan dalam penelitian di Mojokuto ini adalah sebagai berikut:

Sejauhmana realitas kemajuan, kedalaman dan kekayaan kehidupan spiritual masyarakat Jawa –yang notabenenya lebih dulu mengalami peradaban daripada Inggris?
Bagaimana hubungan antara struktur-struktur sosial yang ada dalam suatu masyarakat dengan pengorganisasian dan perwujudan simbol-simbol?
Bagaimana para anggota masyarakat mewujudkan adanya integrasi dan disintegrasi dengan cara mengorganisasi dan mewujudkan simbol-simbol tertentu?

Metode Penelitian Geertz
Secara tersurat –sebagaimana ditulis Parsudi Suparlan- Geertz memang tidak mengatakan kerangka teori apa yang dipakai. Namun demikian, penelitian lapangan yang dilakukan dalam rangka penyusunan laporan untuk disertasi doktoralnya di Departemen Hubungan Sosial Universitas Harvard ini, tampaknya Geertz menggunakan penelitian kualitatif, dengan pendekatan yang berorientasi hermeneutik, yang belakangan dikenal dengan pendekatan interpretif. Dengan pendekatan interpretif ini, Geertz melihat kebudayaan sebagai sistem pemaknaan yang harus dipahami secara semiotik, yakni sebagai jejaring makna (webs of significance) atau pola-pola makna yang terwujud sebagai simbol-simbol sehingga analisis terhadapnya haruslah bersifat interpretif, yakni untuk menelusuri makna, dan menemukan maksud di balik apa yang dilakukan orang, signifikansi ritual, struktur, dan kepercayaannya bagi semua kehidupan dan pemikiran.

Adapun untuk mengurai jejaring makna tersebut, Geertz menggunakan teori “Skismatik dan Aliran”. Namun begitu, Teori Skismatik Geertz ini sedikit berbeda dengan teori skismatik-nya Robert Jay, dimana menurut Teori Skismatik Jay, akar-akar konfrontasi (skisma) antara santri dan abangan bermula dari proses islamisasi awal di berbagai tempat, khususnya Jawa. Wilayah-wilayah yang pada umumnya pengaruh Hindu-Budha-nya tipis –terutama daerah-daerah pesisir utara Jawa, telah mengkonversi Islam secara total dan menerima apa adanya. Sehingga, mereka-mereka ini kelak akan menjadi kekuatan Islam yang skripturalis, atau lebih tepat disebut “santri”. Sebaliknya, untuk wilayah-wilayah tertentu di pedalaman dimana kekuatan Hindu-Budha-nya cukup kuat terutama daerah-daerah pedalaman, seringkali menunjukkan antara Islam dan kekuatan lokal saling melakukan penetrasi. Sehingga kemudian transformasi sosial-budaya dan agama menjadi sesuatu yang sinkretik dan pada akhirnya banyak melahirkan kelompok-kelompok abangan.

Clifford Geertz mengelaborasi kenyataan ini lebih jauh lagi, bahwa ternyata skismatik sebagai fenomena pertarungan antara Islam dan kekuatan lokal, pada dimensi-dimensi tertentu sebenarnya tidak bisa menggambarkan secara utuh kenyataan Islam di Jawa. Ternyata masih ada kekuatan lain selain abangan dan santri dalam kenyataan sosial budaya masyarakat Jawa, yakni kelompok “priyayi”. Kelompok ini dalam keseharian, memiliki sejumlah karakter yang berbeda seperti apa yang biasa dilakukan oleh para santri dan abangan.

Adapun mengenai metode kerja yang digunakan Geertz dalam penyusunan buku The Religion of Java ini, sebagaimana yang diungkapkan oleh Geertz sendiri, meliputi tiga tahapan. Tahap Pertama, Persiapan intensif dalam Bahasa Indonesia di Universitas Harvard, yang kemudian dilanjutkan dengan mewawancarai sarjana-sarjana Belanda yang ahli tentang Indonesia di Universitas Leiden dan di Tropical Institute, Amsterdam, pada bulan Juli sampai Oktober 1952.

Tahap Kedua, dari bulan Oktober 1952 sampai Mei 1953 mempelajari bahasa Jawa di Yogyakarta dengan mempergunakan mahasiswa-mahasiswa UGM sebagai media untuk memperoleh pengetahuan umum mengenai kebudayaan dan kehidupan kota Jawa. Pada tahap ini juga dilakukan wawancara dengan pemimpin-pemimpin agama dan politik di Jakarta, sekaligus mengumpulkan statistik dan menyelidiki organisasi birokrasi pemerintah pada umumnnya dan Departemen Agama pada khususnya.

Tahap Ketiga, antara Mei 1953 sampai September 1954, yang merupakan masa penelitian lapangan yang sesungguhnya, dan dilakukan di Mojokuto. Dalam tahap ini, Geertz beserta istrinya tinggal di rumah seorang buruh kereta api di ujung kota.

Selama berada di Mojokuto ini, Geertz mengaku bahwa pengumpulan data dalam penelitiannya –sebagian besar- tidak dilakukan melalui wawancara resmi dengan informan khusus, tetapi lebih sering dilakukan dengan kegiatan observasi-partisipasi. Hal ini dibuktikan dengan pengakuan Geertz yang sering mengikuti perayaan umum, rapat-rapat organisasi, upacara-upacara dan sebagainya.

Dengan demikian, setelah membaca buku “Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa” serta sumber-sumber lain, secara umum dapat disimpulkan bahwa metode yang digunakan oleh Geertz dalam penelitian lapangan ini adalah penguasaan bahasa lokal, pemanfaatan banyak informan lokal, pembagian tugas dengan tim peneliti lain, pendalaman topik-topik tertentu yang membutuhkan detail, dan pengumpulan data-data statistik. Dan bagian terbesarnya digunakan untuk kegiatan observasi-partisipatif.

Agama Masyarakat Jawa Menurut Geertz
Setelah melakukan penelitian lapangan di Mojokuto dari bulan Mei 1953 sampai bulan September 1954, yang kemudian diajukan sebagai disertasi doktoral dan diterbitkan dengan judul The Religion of Java, tampak ada beberapa hal yang menarik untuk dikaji, antara lain:

1. Agama sebagai fakta budaya
Clifford Geertz dalam antropologi budaya kehidupan Jawa, ia melihat agama sebagai fakta budaya –bukan semata-mata sebagai ekspresi kebutuhan sosial, ketegangan ekonomi atau neurosis tersembunyi --meskipun hal-hal ini juga diperhatikan—melalui simbol, ide, ritual, dan adat kebiasaanya. Agama juga bukan hanya berkutat dengan wacana kosmis tentang asal-usul manusia, surga, dan neraka, tetapi juga merajut perilaku politik saat memilih partai, jenis perhelatan, dan corak paguyuban. Praktik-praktik beragama seperti itulah yang memberi semacam “peta budaya” untuk melacak jaringan sosial yang dibentuk oleh warga. Realitas keagamaan dalam keseharian, menurut perspektif Geertz, sangat pluralistis daripada doktrin formal yang menekankan wacana standar yang global.

Selain itu, menurut Geertz, agama tidak hanya memainkan peranan yang integratif dan menciptakan harmoni sosial tapi juga peranan memecah masyarakat. Dengan demikian ketiga varian agama “Jawa” di Mojokuto itu mempunyai peranan yang saling kontradiksi.

2.Trikotomi budaya (agama?) “Jawa”
Dalam buku Abangan, Santri, Priyayi dalam masyarakat Jawa, Geertz juga menyuguhkan fenomena agama “Jawa” ke dalam tiga varian utama: abangan, santri, dan priyayi. Trikotomi agama “Jawa” itulah yang sampai sekarang terus disebut-sebut dalam wacana sosial, politik, dan budaya di Indonesia dan menjadikannya referensi induk atas upaya ilmuwan sosial di belakangnya yang membedah tentang Jawa. Kekuatan utama Geertz mengungkap fenomena agama “Jawa” adalah kemampuan mendeskripsikan secara detail ketiga varian tersebut dan menyusun ulang dalam konklusi hubungan konflik dan integrasi yang logis dan utuh atas ketiga varian tersebut.

3.Hubungan antara Islam dan masyarakat Jawa
Salah satu yang mengedepan dari konsepsi Geertz adalah pandangannya tentang dinamika hubungan antara Islam dan masyarakat Jawa yang sinkretik. Sinkretisitas tersebut nampak dalam pola dari tindakan orang Jawa yang cenderung tidak hanya percaya terhadap, hal-hal gaib dengan seperangkat ritual-ritualnya, akan tetapi juga pandangannya bahwa alam diatur sesuai dengan hukum-hukumnya dengan manusia selalu terlibat di dalamnya. Hukum-hukum itu yang disebut sebagai numerologi. Melalui numerologi inilah manusia melakukan serangkaian tindakan yang tidak boleh bertentangan dengannya. Hampir seluruh kehidupan orang Jawa di-setting berdasarkan hitungan-hitungan yang diyakini keabsahannya. Kebahagiaan atau ketidakbahagian hidup di dunia ditentukan oleh benar atau tidaknya pedoman tersebut dilakukan dalam kehidupan. Penggunaan numerologi yang khas Jawa itu menyebabkan adanya asumsi bahwa orang jawa tidak dengan segenap fisik dan batinnya ketika memeluk Islam sebagai agamanya. Di sinilah awal mula “perselingkuhan” antara dua keyakinan: Islam dan budaya Jawa.

Apresiasi untuk Geertz
Tidak bisa disangkal, Clifford Geertz sangat mempengaruhi pemikiran banyak orang tentang budaya. Geertz menggambarkan bagaimana simbol-simbol mempengaruhi dan membentuk kehidupan sosial. Hanya saja, Geertz tidak memberikan banyak perhatian pada proses sebaliknya, yaitu bagaimana realitas sosial dan si pelaku dalam realitas itu mempengaruhi dan membentuk simbol-simbol. Sebenarnya, manusia ditentukan oleh budaya-budaya dan budaya juga ditentukan oleh manusia. Budaya dan manusia dikonstruksi melalui proses yang sering disebut ‘praksis’, yaitu sebuah konsep yang menekankan adanya hubungan timbal balik antara si pelaku aktif dengan kebudayaan sebagai struktur obyektif. Proses itu juga bisa dijelaskan dengan tiga prinsip yang dikemukakan oleh Peter L. Berger & Thomas Luckmann:
a. Kebudayaan dibentuk oleh manusia;
b. Manusia dibentuk oleh kebudayaan;
c. Kebudayaan menjalani hidup sendiri.
Dari ketiga prinsip tersebut dapat dijelaskan bahwa budaya memerlukan manusia sebagai aktor untuk diproduksikan dan direproduksikan melalui proses pemberian makna terhadap kehidupannya. Manusia tidak hanya dikondisikan oleh budaya-budaya, baik secara sadar atau tidak sadar, tetapi manusia juga dapat mempengaruhi budaya. Manusia bisa mengubah dan menambahkan nilai dan norma, meskipun akan menghadapi struktur-struktur yang tidak dapat diubah dengan mudah.

Kaitannya dengan “trikotomi yang dibuat Geertz, tentunya bukan Geertz yang menemukan istilah santri, abangan, dan priyayi dalam The Religion of Java, karena istilah-istilah itu sendiri sudah dipakai di kalangan yang lebih terbatas. Namun, harus diakui Geertz-lah yang pertama kali mensistematisasi istilah-istilah itu sebagai perwakilan kelompok-kelompok kultural yang penting.

Sebagai sebuah konsepsi, harus diakui pula bahwa trikotomi Geertz ini adalah sebuah sumbangan yang luar biasa bagi masyarakat Jawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya karena mampu memberikan semacam “peta budaya” yang selanjutnya dapat digunakan untuk menganalisa bagaimana pola hubungan antara agama dengan politik, relasi agama-sosial, serta agama-ekonomi. Namun demikian, tesis “trikotomisasi” Geertz tampak sekali membuka peluang untuk diperdebatkan. Hal ini terbukti dengan “keberhasilan” teori Geertz itu dalam memantik berbagai reaksi, baik yang pro maupun yang kontra. Di antara yang menolak konsepsi Geertz adalah Harsja W. Bachtiar, ahli sejarah sosial, yang mencoba mengkontraskan konsepsi Geertz dengan realitas sosial.

Di antara konsepsi yang ditolaknya adalah mengenai pencampuran istilah priyayi (yang merupakan kategori kelas) dengan istilah santri dan abangan (kategori keagamaan. Abangan adalah lawan dari mutihan, sebagai kategori ketaatan beragama dan bukan klasifikasi sosial. Demikian pula konsep priyayi juga berlawanan dengan wong cilik dalam penggolongan sosial. Jadi, terdapat kekacauan dalam penggolongan abangan, santri dan priyayi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa salah satu kelemahan tulisan Geertz ini adalah terdapatnya ketidakparalelan dalam susunan kategorisasi. Di satu sisi terdapat strata “ekonomi” untuk menggambarkan priyayi, sementara di sisi lain terdapat kategori “religi” ketika dia menggambarkan santri dan abangan. Hal ini berarti Geertz telah mengacaukan dua pembagian yang termasuk susunan yang berlainan, serta mencampuradukkan pembagian horisontal dan vertikal dalam masyarakat Jawa karena pada kenyataannya terdapat priyayi yang abangan atau priyayi yang santri.

Terlepas dari berbagai kritik terhadap teori Geertz, tampaknya kita patut memberikan penghargaan kepadanya atas pandangannya mengenai tipologi masyarakat Indonesia (Jawa). Lewat buah pengamatan Geertz yang dituangkan dalam buku The Religion of Java ini keberadaan abangan, santri, dan priyayi di masyarakat Jawa dikenal luas. Dan dari laporan Geertz ini pula, kita “dikejutkan” dengan sebuah kenyataan bahwa muslim “Mojokuto” (Indonesia?) walaupun mayoritas tetapi masih abangan, dimana hanya lapisan atasnya saja yang Islam, sementara di lapisan bawahnya kejawen.

Lebih dari itu semua, Geertz telah memberikan kontribusi pemikiran yang sangat besar terhadap ilmu-ilmu sosial di Indonesia dan dunia, khususnya antropologi dan sosiologi, karena keberaniannya melawan suatu tradisi besar di dalam ilmu sosial, yaitu tradisi positivisme yang sarat dengan pendekatan kuantitatif. Seandainya Geertz dan pendekatan Antropologi Interpretif tak ada, mungkin kita akan tetap membaca buku-buku teks antropologi dan sosiologi yang memperlakukan budaya sebagai suatu gejala universal dengan narasi besar tanpa melihat bagaimana secara kontekstual dan secara historis kultur-kultur lokal itu “dibangun.”

Sunnatullah

SUNNATULLAH: ANTARA TERPAKSA DAN SUKARELA

Allah SWT menciptakan langit, bumi dan seluruh isinya termasuk manusia. Allah juga mewujudkan peraturan untuk keselamatan dan kesejahteraan mereka bukan saja di dunia, tetapi juga di Akhirat, tempat tinggal terakhir untuk manusia. Peraturan atau syariat Allah yang berlaku di bumi, tempat tinggal sementara manusia ini, itulah yang dikatakan sunnatullah. Ini merupakan peraturan dan perjalanan yang Allah Taala telah tetapkan untuk manusia. Yang wajib manusia harus ikut dan patuhi. Jika manusia tidak patuhi dan menolak sunnatullah itu, sudah pasti manusia akan rosak dan binasa. Kerosakan dan kebinasaan itu pasti akan terjadi di dunia baik dalam jangka pendek mahupun jangka panjang.

Apabila kita membicarakan sunnatullah iaitu satu sistem dan peraturan yang ditentukan oleh Allah SWT untuk manusia di dunia ini, ia tidak akan berubah dan tidak ada siapa yang dapat merubahnya sejak Allah SWT wujudkannya sampai bila pun.

Firman Allah SWT: 
Artinya: “Kerana kamu tidak akan sekali mendapati sebarang perubahan bagi Sunnatullah, kamu tidak akan sekali pun mendapati sebarang penukaran bagi perjalanan sunnatullah itu.” (QS. Fathir: 43)

Perlu diingat bahwa sunnatullah itu dapat dibahagi dua:
Pertama: Manusia menerimanya secara terpaksa
Kedua: Manusia menerima secara sukarela
Firman Allah:
Artinya: “Dan kepada Allahlah sekalian makhluk yang ada di langit dan bumi tunduk menurut, baik dengan sukarela atau dengan terpaksa.” (QS. Ar Ra’d: 15)

1. Secara terpaksa (karhan)
Sunnatullah yang pertama, manusia menerimanya secara terpaksa (karhan). Contoh di antaranya:
  • Jika manusia ingin bernafas, Allah sudah menentukan bernafas dengan udara bukan dengan air dan lain-lain. 
  • Bernafas melalui hidung bukan melalui mata dan lain-lainnya. 
  • Makan dan minum melalui mulut bukan melalui dubur dan jalan lain-lain. 
  • Berjalan menggunakan kaki bukan menggunakan tangan dan lain-lain. 
  • Kalau ingin rehat dan untuk memulihkan kesegaran harus tidur dan rehat, tidak dengan bermain atau memanjat pohon dan lain-lain.
Begitulah keadaannya. Banyak contoh-contoh lain lagi yang tidak perlu disebutkan di sini. Dapat dikiaskan saja.

2. Secara sukarela (tau’an)
Sunnatullah yang kedua ialah Allah SWT membuat peraturan sebagai sunnatullah yang tidak akan diubah seperti:
  • Makan dan minumlah yang halal seperti nasi dan air putih, jangan makan dan minum yang haram seperti daging babi dan arak. 
  • Inginkan perempuan harus melalui pernikahan. Jangan melalui perzinaan. 
  • Inginkan kaya, berusahalah secara halal seperti berdagang, bertani dan berternak. Jangan mencuri, jangan menipu dan jangan rasuah. 
  • Jika inginkan keselamatan negara dan masyarakat, harus menggunakan hukum Allah SWT yang berdasarkan Al Quran dan Sunnah. 
  • Kalau mahu kehidupan di bidang ekonomi berjalan dengan sehat, mesti tidak ada penipuan dan penindasan, menolak sistem riba, monopoli dan perdagangan yang haram. 
  • Jika ingin kehidupan manusia seimbang agar terjamin kebahagiaan dan keharmonian, bangunkanlah kehidupan yang bersifat material dan juga pembangunan rohaniah.
Demikianlah beberapa contoh. Masih banyak lagi contoh-contoh, yang lain dapat dikiaskan sahaja. Kedua-dua sunnatullah baik itu yang bersifat terpaksa (karhan) maupun bersifat sukarela atau pilihan (tau’an) atau ada usaha memilih untuk melaksanakannya, kalau dilanggar atau tidak dipatuhi, pastilah manusia akan binasa di dunia ini sebelum binasa di Akhirat kelak. Sebab-sebab manusia menolak hal itu mungkin karena manusia itu mahu membuat peraturan sendiri sebab tidak puas hati dengan peraturan Tuhan. Maka mereka pun membuat sunnah sendiri. Sunnatullah yang pertama, tidak ada manusia yang menentang atau menolaknya. Semua orang dapat menerimanya kerana dari pengalaman manusia mereka dapat menerima dengan penuh suka dan puas hati. Tidak ada yang terasa berat menerimanya. Bahkan tidak ada yang merasa inferiority complex menerimanya. Semua menerimanya dengan berpuas hati dan senang hati. Tidak ada yang merasakan kolot, ketinggalan zaman, out of date.

Tidak ada yang mengatakan, “Ia sudah ketinggalan zaman, semenjak Nabi Allah Adam as manusia bernafas dengan udara. Sudah terlalu lama, sudah kolot. Inikan zaman sains dan teknologi, zaman IT canggih, tidak sepatutnya kita bernafas dengan udara lagi. Semestinya kita bernafas dengan air.” Tiada manusia yang mengatakan begitu.

Mengapa manusia dapat menerima bahkan merasa puas dengan sunnatullah yang pertama iaitu yang bersifat karhan? Mengapa tidak ada yang mempertikainya? Mengapa tidak terasa ketinggalan zaman menggunakan peraturan yang sudah terlalu lama itu? Manusia dapat menerimanya kerana kalau melanggar sunnatullah itu resikonya besar dan dapat merusakkan hingga dapat membawa kematian. Bahkan sudah banyak yang mati disebabkan air. Cubalah bernafas dengan air! Dapatkah manusia hidup? Dapatkah manusia dapat bernafas? Sudah tentu tidak dapat. Kalau diteruskan masa itu juga akan mati.

Jadi karena jika melanggar sunnatullah yang pertama, yang bersifat terpaksa itu (karhan), manusia akan cepat menerima risikonya, maka tidak ada manusia yang melanggar sunnatullah yang pertama itu. Malahan manusia dapat patuh dengan puas. Di sini manusia merasa selamat menerima sunnatullah yang bersifat karhan. Manusia berpuas hati menerima peraturan itu. Manusia mengakui siapa yang melanggar sunnatullah itu, mereka pasti akan rosak.

Artinya mematuhi peraturan yang bersifat karhan itu sangat menyelamatkan dan menguntungkan manusia. Bagaimanapun susahnya, manusia mahu menerima sunnatullah yang kedua iaitu yang bersifat sukarela (tau’an). Termasuklah sebahagian besar umat Islam di dunia, di akhir zaman ini. Allah SWT membenarkan manusia untuk memilih menerima atau menolak sunnatullah yang bersifat tau’an ini tetapi risikonya tetap ada bahkan lebih besar. Baik yang akan berlaku di dunia, maupun yang akan ditimpakan di Akhirat kelak.

Umat Islam sendiri merasa malu untuk menerimanya, ragu melaksanakannya, takut tidak maju, takut huru-hara, malu dengan yang bukan Islam. Ia dianggap ketinggalan zaman dan sudah tidak sesuai lagi. “Sekarang zaman sains dan teknologi, zaman IT canggih, bukan zaman unta.” Begitulah umat Islam sendiri dengan penuh angkuh dan sombong menolaknya. Bahkan benci dan prejudis terhadap pejuang-pejuang yang hendak menegakkan sunnatullah kedua yang bersifat tau’an ini.

Banyak manusia yang menolak, termasuk sebahagian besar umat Islam, karena apabila menolak sunnatullah yang kedua ini risikonya lambat. Kebinasaan dan kerusakan tidak langsung terjadi di waktu itu. Ia terjadi secara lambat. Adakalanya setelah sepuluh tahun, lima belas tahun atau dua puluh tahun. Sehingga apabila risiko dan kerosakan menimpa, di waktu itu mereka sudah tidak dapat mengkaitkan lagi ia dengan perlanggaran dan penolakan sunnatullah yang dilakukan sejak bertahun-tahun yang lalu.

Oleh karena itu jika ada orang atau golongan yang sedar dan memberitahu kerosakan moral, kejahatan, perpecahan dan lain-lain yang berlaku sekarang ini disebabkan kita sejak dahulu telah melanggar sunnatullah, mereka akan menolaknya. Bahkan marah dan bermusuhan dengan orang itu. Mereka tidak dapat mengaitkan gejala sosial yang berlaku, yang telah merosakkan masyarakat hari ini dengan kesalahan mereka menolak hukum atau sunnatullah itu. Sebagai contoh, keruntuhan akhlak dan gejala tidak sihat yang berlaku di dalam masyarakat sekarang seperti penculikan, kekerasan, budaya yang merosakkan, vandalisme, rompak, pencurian, rasuah, krisis rumah tangga dan sebagainya itu adalah akibat dari apa yang kita telah lakukan sejak puluhan tahun yang lalu. Ia berlaku apabila sistem pendidikan tidak mengikut syariat Allah, sistem ekonomi berdasarkan kapitalisme, perlembagaan negara bertentangan dengan sunnatullah iaitu tidak berlandaskan Al Quran dan Hadis, masyarakat kita tidak dicegah untuk bergaul bebas dan media massa tidak dikawal daripada memaparkan apa yang dilarang oleh Allah seperti mempamerkan gambar-gambar porno yang merangsang nafsu. Jadi, gejala sosial yang berlaku adalah buah dari pohon yang sudah lama kita tanam. Oleh itu jelas pada kita bahwa sunnatullah yang kedua ini yang bersifat tau’an, jangan dilanggar. Kalau dilanggar tetap memudarat dan merosakkan masyarakat manusia tetapi memakan masa yang panjang baru nampak risikonya. Setelah lama barulah terlihat kesannya.

Baik itu sunnatullah yang pertama maupun yang kedua, yang bersifat karhan mahupun yang bersifat tau’an, kalau dilanggar juga kita akan binasa. Hidup kita akan huru-hara. Masyarakat kita akan pincang. Kebahagiaan kita akan rusak dan keharmonian kita akan hilang. Cuma pelanggaran yang pertama cepat kebinasaannya tetapi pelanggaran yang kedua lambat. Itu saja bezanya. Justru itu kalau didapati di dalam masyarakat kita berbagai-bagai kejahatan, kerosakan akhlak, krisis, bahkan bencana alam, merujuk cepatlah kepada Allah Taala. Jangan lengah-lengah lagi. Muhasabah diri dan sistem yang kita bangunkan. Ada atau tidak pelanggaran sunnatullah itu. Kalau didapati ada pelanggaran, harus dibetulkan. Tukar segera dengan sunnatullah, kemudian memohon ampun sebanyak-banyaknya kepada-Nya sebelum Allah Taala menimpakan balasan dan hukuman yang lebih berat dan parah lagi.

Cara Menemukan Kebahagiaan

Saran umum yang sering kita dengar tentang cara mendapatkan kebahagiaan adalah dengan merubah sikap atau kebiasaan kita. Ini sangat tepat, namun kadang-kadang di situasi tertentu kita memerlukan cara yang mudah dan cepat untuk segera mengangkat mental kita dari keterpurukan.


Kabar baiknya adalah ada metode-metode sederhana yang dapat dengan instan mengangkat mental anda segera.

Dibawah ini adalah daftar metode bagaimana anda dapat menemukan kebahagiaan hanya dalam waktu 5 menit, berikut penjelasan bagaimana masing-masing metode tersebut bekerja.

Sedikit tips sebelum anda membaca lebih jauh : Jika anda hanya sekedar membaca dan kemudian mengangguk-ngangguk tanda setuju, anda tidak akan mendapatkan pengalaman apa-apa. Saya sangat menyarankan anda untuk mempraktekannya. Tidak sulit dan percayalah anda akan mendapatkan sesuatu dari metode tersebut.

1. Tulislah daftar terima kasih
”Rasa terima kasih adalah kunci menuju hidup bahagia, karena jika kita tidak berterima kasih, maka seberapa pun yang kita miliki, kita tidak akan bahagia – sebab kita selalu ingin sesuatu yang lain atau sesuatu yang lebih terus.”
- David Steindl Rast –
Kita sering tidak menyadari bahwa betapa banyak hal-hal yang kita sebetulnya dapat berterima kasih. Saya beri contoh sedikit saja untuk memancing otak anda : anda dapat makan 3 kali sehari, anda dapat menyelesaikan pekerjaan anda, anda dapat pulang ke rumah dengan selamat, anda dapat bermain-main dengan anak anda, anda bisa berjalan-jalan bersama teman-teman, anda dapat medengarkan lagu kesayangan anda, anda dalam keadaan sehat, dan masih banyak lagi yang lain.

Suatu penelitian mengatakan bahwa orang-orang yang hidupnya dipenuhi dengan rasa terima kasih dilaporkan tidak mengalami gangguan kesehatan yang berarti dan merasakan kehidupannya jauh lebih baik secara keseluruhan. Mereka bahkan membuat perkembangan yang positif atas pencapaian tujuan-tujuan penting dalam hidup mereka.

Latihan sederhana 5 menit ini saya yakin dapat merubah hidup anda :

Bagaimana menemukan kebahagiaan dalam 5 menit :
  • Ambil sebuah pena.
  • Ambil secarik kertas.
  • Rewind otak anda semenjak anda bangun tadi pagi sampai dengan anda menulis saat ini.
  • Tulislah 5 hal yang anda berterima kasih dalam hidup anda.
  • Lakukan 5 menit setiap hari untuk mendapatkan manfaat yang permanen.
2. Rayakan lepasnya rasa terbelenggu anda
“Kebahagiaan selalu terlihat kecil jika anda hanya memegangnya di tangan anda, tetapi jika anda melepaskannya, anda akan belajar betapa besar dan berharganya kebahagiaan tersebut.”
- Maxim Gorky –
Saya akan memberikan sedikit ilustrasi : salah satu hal yang membuat kita merasa senang adalah ketika kita baru saja sembuh dari sakit. Setelah sekian lama kita terbaring di atas ranjang ditambah selera makan yang tidak enak, akhirnya kita dapat merasakan kebahagiaan karena kita dapat beraktivitas kembali dengan normal.

Oke, latihan berikut ini akan menciptakan suasana hati yang mirip dengan kejadian diatas.

Bagaimana menemukan kebahagiaan dalam 5 menit :
  • Pasang alarm untuk berbunyi dalam 5 menit. 
  • Tutup mata anda secara melingkar dengan seutas kain.
  • Lakukan aktivitas rutin anda sejauh yang anda mampu. 
  • Ketika alarm berbunyi, bukalah tutup mata anda.
 3. Regangkan otot-otot anda
”Bergerak adalah obat untuk membuat perubahan terhadap fisik, emosi dan mental seseorang.”
- Carol Welch –
Orang-orang yang berlatih yoga telah membuktikan bahwa mereka memiliki perasaan dan kondisi tubuh yang jauh lebih baik, sekalipun sesi yang mereka lakukan cukup singkat. Yoga memang bukan konsumsi kebanyakan orang dan dibutuhkan komitmen yang tinggi untuk melakukannya. Anda dapat menggantinya dengan gerakan-gerakan peregangan yang sederhana. Saya biasa melakukannya, terutama setelah lama duduk di depan laptop. Setelah melakukan peregangan-peregangan, perasaan saya menjadi lebih baik.

Bagaimana menemukan kebahagiaan dalam 5 menit :
  • Putarlah kepala anda dengan perlahan searah jarum jam, kemudian berlawanan arah jarum jam. 
  • Ayunkan tangan kiri dan kanan anda melingkar ke arah depan, setelah itu ke arah belakang.
  • Putarlah pinggang anda. Lakukan searah jarum jam, setelah itu berlawanan arah jarum jam. 
  • Jongkoklah dengan posisi kaki kiri diluruskan ke samping. Lakukan hal yang sama dengan kaki kanan.
 4. Ambillah nafas yang dalam
”Tariklah nafas dan Tuhan akan mendekati anda. Tahanlah nafas dan Tuhan tetap bersama anda. Hembuskan nafas maka anda akan mendekat pada Tuhan. Tetaplah berhembus dan pasrah kepada Tuhan.”
- Krishnamacharya –
Apakah anda mempunyai nafas yang dalam atau dangkal? Kebanyakan orang mempunyai nafas yang dangkal. Untuk mengetahuinya cobalah lakukan test berikut ini :

Taruhlah telapak tangan anda di perut bagian bawah dan ambillah nafas yang panjang/dalam. Jika perut anda masuk ke dalam saat anda menarik nafas, maka anda tergolong mempunyai nafas yang dangkal. Jika sebaliknya perut anda terdorong keluar, maka anda mempunyai nafas yang dalam.

Tidak masalah anda mempunyai nafas yang dalam atau dangkal, lakukan saja hal-hal dibawah ini.

Bagaimana menemukan kebahagiaan dalam 5 menit :
  • Tarik nafas selama 4 hitungan (detik). 
  • Tahan nafas selama 16 hitungan.
  • Buang nafas secara perlahan selama 8 hitungan. 
  • Lakukan ini sebanyak 10 kali.
 5. Rasakan detak jantung anda.
“Kebahagiaan bergetar dengan setiap denyut jantungku.”
- Emily Logan Decens –
Anda mungkin sudah pernah mendengar nasihat : berbahagialah, sebab anda hidup! Kita semua tahu bahwa kita memang hidup, namun kita seringkali jarang ’merasakan’ bahwa kita hidup. Cara tercepat untuk menyadari bahwa anda hidup adalah dengan merasakan aliran darah melalui urat nadi anda.

Bagaimana menemukan kebahagiaan dalam 5 menit :
  • Taruhlah 2-3 jari anda di bagian dalam pergelangan tangan anda. 
  • Rasakan aliran darah yang mengalir pada setiap detak jantung.
  • Hitunglah berapa jumlah detak jantung per menit jika diperlukan. 
  • Renungkan apa tujuan anda hidup.
 6. Ingatlah kembali perjalanan tangan anda
Penelitian menemukan bahwa ketika anda membuat suatu usaha untuk mengingat kembali kejadian-kejadian dalam hidup anda, maka ingatan anda akan bekerja untuk anda dan akan menemukan kebahagiaan dalam kejadian-kejadian tersebut.

Bagaimana menemukan kebahagiaan dalam 5 menit :
  • Bukalah telapak tangan anda dan lihatlah. 
  • Ingatlah apa saja yang sudah tangan anda lakukan sepanjang hidup anda. 
  • Bangkitkan kembali saat tersebut sedetail mungkin ketika anda berhasil mengingatnya.
 7. Tetaplah dalam kesunyian
”Kebahagiaan laksana kupu-kupu, dimana ketika anda berusaha meraihnya, ia akan semakin menjauh dari jangkauan anda. Namun, ketika anda duduk dengan tenang, ia akan menghampiri anda.”
- Nathaniel Hawthorne –
Kesunyian menawarkan harta karun tersembunyi yang hanya sedikit orang dapat mengaksesnya. Banyak orang tidak memiliki akses tersebut bukan karena mereka tidak mengetahui caranya, tetapi lebih ke arah mereka tidak betul-betul menyediakan waktu untuk tetap dalam keheningan. Kesunyian mungkin sangat tidak nyaman pada saat pertama kali, karena anda sudah terbiasa dengan suara-suara disekeliling anda sepanjang waktu.

Bagaimana menemukan kebahagiaan dalam 5 menit :
  • Matikan TV dan alat-alat lainnya yang mengeluarkan suara
  •  Pasang alarm untuk 5 menit.
  • Duduk dan dengarkan suara keheningan. 
  • Rasakan kuping anda ketika mendengarkan suara kesunyian.
Para pembaca yang budiman, semoga 7 cara diatas bermanfaat dan dapat memotivasi anda.

Belajar dari Kesalahan

Tidak ada orang yang suka berbuat kesalahan. Namun jika anda ingin melewati hidup dengan baik, maka tidak ada jaminan bagi anda untuk tidak melakukan kesalahan. Jika anda dapat belajar dari kesalahan dengan tepat, maka anda akan mendapatkan bahan bakar baru untuk maju kedepan.

Anda harus menyadari bahwa kesalahan adalah bagian yang penting dalam pengembangan diri. Jangan termenung terus dengan rasa bersalah dan penyesalan, pelajari bagaimana anda dapat belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut.
 
1. Minta Maaf dengan Tulus dan Sungguh-sungguh
Jika anda telah melakukan kesalahan yang menyakiti/membahayakan orang lain, sangat penting bagi anda untuk segera meminta maaf dengan sungguh-sungguh. Pastikan bahwa itu adalah betul-betul suatu kecelakaan yang tidak akan terulang. Permintaan maaf yang baik akan mengembalikan tingkat kepercayaan orang tersebut pada anda.

Sebaliknya, jika anda tidak meminta maaf, maka kemungkinan besar orang tersebut akan menyerang anda.

Akan sangat efektif jika anda meminta maaf secara pribadi dibandingkan lewat surat atau email. Namun, begitu anda telah mendapatkan maaf, jangan sampai melakukan kesalahan yang sama lagi, karena itu adalah suatu kekonyolan dan sangat menjengkelkan. Segera perbaiki tindakan-tindakan anda.

2. Jangan Menjadi Seorang Yang ’Perfectionist’
Jika anda menjalani hidup dengan ketakutan untuk melakukan kesalahan, maka anda akan menghabiskan hidup anda dengan tidak melakukan apa-apa. Bukan masalah jika anda melakukan kesalahan, karena sekali lagi itu adalah bagian penting dari hidup agar anda terus maju. Semakin banyak tanggung jawab yang anda pikul, kemungkinan anda melakukan kesalahan pun semakin sering.

Jika anda selalu ingin merasa semuanya sempurna, selalu ingin menghindari kesalahan-kesalahan sekecil apapun, hal itu lama kelamaan akan membentengi diri anda secara psikologi dan anda menjadi tidak berani dalam mengambil resiko.

3. Jangan Membuang Waktu Dengan Mencari Pembenaran
Kita manusia mempunyai sifat alami untuk mencari pembenaran atas kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Ketika kita melakukan kesalahan, rata-rata reaksi pertama kita adalah menyalahkan orang lain.
”Ya, saya telah menabrak mobil di depan saya, tapi itu adalah karena teman saya yang selalu mengajak saya bergosip sehingga konsentrasi saya terpecah…”

”Saya tidak dapat menyelesaikan tugas sesuai jadwal karena komputer saya mengalami gangguan …”

Perlu anda ketahui, ketika kesalahan telah dibuat, atasan anda sama sekali tidak tertarik dengan pembenaran-pembenaran yang anda buat. Kita mencari pembenaran karena ego kita yang tinggi. Kadang-kadang, hal terbaik yang perlu diucapkan, sangat sederhana : ”Ya, saya telah melakukan kesalahan.”

4. Pahami Mengapa Kesalahan Tersebut Dapat Terjadi
Kesalahan-kesalahan dapat terjadi karena berbagai macam kesalahan. Untuk mencegah terjadinya kesalahan yang sama dua kali, anda harus memahami akar permasalahannya.
Sebagai contoh, anda seringkali berbicara dengan nada cepat dan marah; sering anda mengeluarkan kata-kata yang kurang baik. Anda harus mencari tahu apa yang menyebabkan anda marah pada saat itu. Mungkin anda merasa sangat lelah atau kepala anda sedang sakit. Jika anda melakukan kesalahan karena anda begitu lelahnya, cobalah untuk tidak tidur sampai larut malam. Jika anda merasa stress, carilah jalan untuk membuat anda relax.

5. Hindari Mengulang Kesalahan Yang Sama
Anda harus menghindari perasaan bersalah yang terus menerus karena telah berbuat kesalahan, namun pada saat yang sama, anda harus mencari jalan pemecahan dan melakukan tindakan perbaikan. Jika anda mengulang kesalahan yang sama, hal tersebut menunjukkan bahwa anda tidak mengalami suatu kemajuan dan menyebabkan kerugian/penderitaan yang berulang.

Seringkali kesalahan disebabkan oleh kebiasaan-kebiasaan yang buruk. Untuk mencegah kesalahan yang sama berulang, anda harus menghapuskan kebiasaan buruk tersebut. Hal ini memang tidak mudah dan membutuhkan usaha ekstra untuk merubah kebiasaan. Bagaimanapun, semakin cepat anda bisa merubah kebiasaan buruk tersebut, semakin cepat anda menghindari melakukan kesalahan yang sama.

6. Kesalahan Adalah Kesempatan Untuk Belajar
Dari kesalahan-kesalahan yang telah anda buat, tentu saja anda akan semakin berkembang dan bijak. Kesalahan-kesalahan, dalam hubungannya dengan keberanian mengambil resiko, merupakan sesuatu yang krusial untuk kesuksesan anda. Hal yang terpenting adalah melihat kesalahan sebagai batu loncatan untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi dan kehidupan yang lebih baik.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Laundry Detergent Coupons